Arifin Purwakananta : Zakat Makin Relevan di Era Kerja

Pemerintahan Kabinet Kerja yang telah berjalan sejak 20 Oktober 2014 menunjukkan geliat yang cepat dari Presiden Jokowi dan para mentrinya. Gagasan meluncurkan kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Sejahtera menunjukkah pemerintah RI akan serius dalam memikirkan kelas ekonomi paling bawah dari masyarakat kita. Sejumlah pihak lalu menanyakan apa relevansi gerakan filantropi yang saat ini berkembang di masyarakat seperti Zakat, sedekah dan lainya, ketika Negara telah memberi perhatian kepada orang miskin melalui anggaran Negara.

Dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Arifin Purwakananta menyatakan bahwa zakat akan tetap relevan dikembangkan untuk isu keberpihakan pada orang miskin walau Negara telah merancang program jaminan sosial. Aktifis sosial yang belasan tahun menggeluti dunia zakat ini menyatakan bahwa justru di era kerja seperti inilah zakat akan tumbuh dan berkembang. “Zakat itu tumbuh berbasis pada keimanan dan produktifitas. Syarat relijius saja tak cukup untuk membuat zakat bias berkembang. Ia harus diletakkan pada kerangka produktifitas ummat”, demikian Arifin menyatakan. Arifin yang juga adalah presiden dari Association of Fundraising professional (AFP) di Indonesia ini menambahkan justru pada era kerja seperti inilah zakat makin relevan didorong untuk tumbuh dan menjadi konsep alternatif bagi menyelesaikan masalah bangsa yakni kemiskinan, jurang ekonomi yang lebar dan lemahnya sumber daya manusia Indonesia. Arifin bahkan memperkirakan penghimpunan zakat secara nasional akan naik tajam jika pemerintah berhasil meningkatkan kinerja ekonomi Indonesia dan infrastruktur zakat nasional seperti BAZNAS (badan Amil Zakat Nasional)  dan LAZ (lembaga Amil Zakat) dapat bekerja optimal.

Menaggapi kekhawatiran peran kelembagaan zakat yang saat ini tumbuh di masyarakat yang tergantikan oleh kinerja pemerintah yang makin pro rakyat kecil, Arifin mengungkapkan justru kenyataannya pada Negara-negara maju makin banyak jumlah gerakan filantropi yang dilakukan oleh masyakat. Lebih lanjut Arifin yang juga Executive Secretary World Zakat Forum ini menambahkan jumlah gerakan social termasuk zakat masih jauh lebih kecil dari jumlah NGO yang ada di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan Negara2 Eropa. “Zakat dan kebijakan pro rakyat miskin oleh negara tak saling mematikan, jusrtu sebaliknya, tumbuhnya zakat di masyarakat justru akan makin mempercepat Negara menyelesaikan tugasnya memakmurkan rakyatnya”, tambah Arifin.

Belajar dari pengalamannya bergelut di dunia zakat selama 14 Tahun, mantan Direktur Dompet Dhuafa ini meyakini tantangan ke depan bagi pengelolaan zakat Indonesia adalah kemampuannya mengajak sebanyak mungkin masyarakat diseluruh wilayah dan seluruh lapisan ini mengamalkan zakat. Masyarakat berzakat akan ditandai dengan naiknya tiga pilar ekonomi zakat yakni relijiusitas, produktifitas dan distribusi ekonomi. Relijiusitas akan meningkatkan kinerja, anti korupsi dan minimalisasi konflik sosial. Produktifitas adalah modal untuk membuat bangsa ini lebih meningkat taraf kehidupannya dan distribusi ekonomi yang akan mendorong aliran dana zakat yang berujung pada terciptanya keadilan sosial. Dengan ketika konsep inilah zakat akan makin relevan pada era kerja seperti sekarang ini, demikian Arifin memaparkan kerangka fikirnya dengan nada optimis.

“Tugas kita adalah membangun paradigma positif, mencari solusi dan menguatkan strategi zakat nasional untuk menyambut era kebangkitan zakat ini”, demikian Arifin menambahkan. Ia melanjutkan bahwa tantangan seperti belum idealnya perundangan zakat, belum tersosialisasinya zakat dengan baik dan mutu pendayagunaan zakat serta pengawasan zakat yang belum baik memang harus terus menjadi agenda besar kita. Namun Arifin optimis hal ini dapat dibangun dengan baik jika semua pihak ikut mendukung kebangkitan zakat ini.

You may also like...

Leave a Reply