Menggagas Gerakan Mudik Sambil Investasi Desa

Inovasi Sosial

Inovasi Sosial

Mudik adalah  event tahunan yang melibatkan berbagai sektor di masyarakat. Tidak saja melibatkan 27,9 Juta masyarakat seperti yang dirilis Dishub Kemenhub RI, juga ada jumlah dana yang besar yang berputar saat mudik berlangsung. Institut Inovasi Sosial Indonesia (INSOS) memperkirakan kue Ekonomi Mudik Indonesia 2014 sebesar 96.3 Trilyun Rupiah. Peristiwa mudik selain peristiwa budaya, peristiwa pergerakan sosial juga adalah peristiwa ekonomi.

Selain konsumsi yang dihabiskan pemudik untuk berbagai kebutuhan mudik dan lebaran, pemudik sebenarnya telah melakukan semacam, kegiatan investasi di daerahnya.   Dalam kesempatan di depan media  Rabu 23 Juli 2014, Arifin Purwakananta  selaku Direktur INSOS menyatakan perkiraan jumlah investasi yang dilakukan pemudik ke desanya di tahun 2014 ini akan naik menjadi 5,3 Trilyun Rupiah. Ini artinya naik sebesar 17 % dari tahun lalu yang telah mencapai 4,5 Trilyun Rupiah. Angka ini disumbang oleh 6,9 Juta pemudik yakni sebesar 25% dari total jumlah penudik Indonesia 2014.

Arifin menyatakan harus ada upaya inovasi sosial untuk terus membuat mudik menjadi lebih produktif dan berimbas kepada desa tempat asal pemudik. Hal yang dapat dilakukna adalah dengan mengkampanyekan Mudik Sambil Investasi di Desa. Hal ini dimungkinkan karena masih ada peluang merubah perilaku masarakat yang membawa uang untuk dibagi-bagikan kepada sanak kelauarga di desa ketika mudik. Bahkan diantaranya sampai menukarkan uang lembaran baru ke bank untuk maksud ini. Jumlah dana yang disiapkan untuk dibagikan ini ternyata tidak kecil. Menurut prediksi INSOS ada sejumlah 19,9 Trilyun Rupiah diberikan pemudik untuk membantu keluarga dan kerabat di desa. Arifin mengatakan “Jika 50% saja dana charity mudik ini digeser menjadi investasi desa, maka dana investasi desa yang dibawa pemudik akan bertambah kurang lebih 10 Trilyun Rupiah”. Untuk itu perlu kerjasama berbagai pihak untuk mewujudkan gerakan Mudik Sambil Investasi di desa (MINDA) ini.

Lebih teknis Arifin menyatakah bahwa pemudik dapat dikampanyekan agar tidak semua dana yg dibnerikan ke kerabat desa dalam bentuk charity melainkan dalam bentuk investasi atau modal kerja bagi usaha kecil di desa. Usaha yang diberi investasi bisa saja sektor informal seperti warung, usaha ternak ayam kampong, ternak kambing, pertanian ladang serta usaha-usaha jasa dan lainnya. Pemudik harus diberi insentif untuk lebih giat memberikan dananya untuk investasi agar perekonomian desa meningkat. Infrastruktur ekonomi desa juga harus disiapkan untuk menangkap peluang investasi dari pemudik ini. Demikian piminan INSOS ini menjabarkan.

Arifin menutup dengan harapan bahwa kampanye gerakan Mudik Sambil Investasi di Desa  oleh INSOS ini didukung oleh banyak pihak untuk mendorong upaya keberdayaan desa dengan kebangkitan ekonomi desa.

You may also like...

Leave a Reply